Gender di Kampus: Apa Kata Mahasiswa?

Surabaya, 27 April 2026 -  Persepsi gender di kalangan mahasiswa Indonesia menunjukkan kemajuan kesadaran kesetaraan, namun stereotip tradisional masih kuat melekat, khususnya terkait peran kepemimpinan. Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan di Indonesia masih tertinggal berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 tercatat sebesar 56,42% di tahun 2024, sedangkan laki‑laki mencapai 84,66%. Ini menunjukan masih ada selisih yang cukup besar antara perempuan dan laki - laki. 


Pola Persepsi Berdasarkan Studi Kampus

Di berbagai kampus, tren menunjukkan dukungan luas terhadap kesetaraan akses pendidikan, tetapi masih ada batas ketika bicara posisi kepemimpinan. Padahal, kenyataannya perempuan berhak untuk mendapatkan posisi sebagai ketua. Perempuan yang menjadi ketua biasanya lebih detail dan punya pemikiran jangka panjang. Perempuan yang menjadi pemimpin sebenarnya bisa memposisikan diri dengan baik sambil bersikap tegas. Sebuah contoh konkret adalah Septy Nur Ramadhani, ketua PR Apprentice Unesa. Septy merupakan pemimpin yang tegas dan dapat membuat keputusan yang bijaksana. Menurut salah satu anggota PR Apprentice, “Septy merupakan seorang pemimpin perempuan yang dapat memimpin dengan baik.”



Septy Nur Ramadhani sebagai ketua PR Apprentice


Faktor Pengaruh dan Tantangan

Media sosial mempercepat kesadaran kesetaraan gender, sejalan juga dengan fakta bahwa pengguna perempuan mendominasi platform seperti Instagram dan TikTok. Banyak akun edukasi, komunitas, dan konten kreatif memberi ruang bagi perempuan untuk menyuarakan pengalaman, memaparkan isu, dan membangun jejaring solidaritas. Komunitas seperti @girlupunesa menjadi ruang diskusi yang aktif, membuka ruang belajar tentang hak, batas personal, dan pentingnya perempuan muncul di posisi‑posisi kepemimpinan.

Namun, di sisi lain, hoaks gender dan budaya patriarki lokal masih menjadi hambatan serius. Di banyak kampus, norma lama tentang “perempuan harus lebih pasif” atau “laki‑laki lebih layak memimpin” masih hidup dalam cara pembagian tugas, pemilihan ketua, hingga bahasa sehari‑hari. Konten digital yang mengejek peran perempuan, memperlebar stereotip, atau menjadikan diskriminasi sebagai bahan bercanda juga turut menghambat pergerakan kesetaraan yang sudah mulai terbentuk.


Meski begitu, media sosial juga bisa menjadi sarana melawan bias itu, selama mahasiswa secara kritis memilih konten yang diterima, aktif mengoreksi narasi merugikan, dan memanfaatkan platform untuk memperkuat suara perempuan, bukan hanya sebagai penonton.


Suara Mahasiswa Lokal

Putri salah satu mahasiswa yang mengikuti komunitas girl up mengatakan bahwa “kesetaraan gender antara perempuan dan laki laki belum sepenuhnya setara, masih terjadinya toxic masculinity. Sebagai anggota dari Unesa Girl Up, media memiliki peran yang petning untuk menyuarkan kesetaraan gender, karena no viral no justice. Perempuan disini bersatu untuk membela gender kita.” 

(Kegiatan Girl Up Unesa dalam mengedukasi anak anak sebagai bentuk pemberdayaan perempuan.)


Meskipun belum sepenuhnya kesetaraan di Indonesia merata tetapi kabar baiknya kesetaraan gender di Indonesia mengalami kenaikan berdasarkan data dari Good Stats sebesar 4,88% dari tahun 2006 yaitu 65,41% hingga 68,6% pada tahun 2024. Angka ini menunjukkan ada kemajuan, tapi juga membuktikan bahwa kesenjangan masih lebar. Di kampus, kita harus mulai dari hal kecil, mendorong perempuan ke posisi kepemimpinan. 


Penulis : Dwi Mahardika Rahayu Ningsih

Sumber : Good Stats,  Badan Pusat Statistik (BPS)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Risiko dan Tantangan di Media Sosial

Perempuan Dominasi Media Sosial Indonesia: Pengguna Aktif Dorong Pemberdayaan Digital

MEDIA SOSIAL MENJADI RUANG BARU UNTUK PEMBERDAYAAN PEREMPUAN