Dari Kartini ke Kampus: Akses Setara, Tapi Perempuan Masih Tertinggal di Pendidikan Tinggi

Surabaya, 6 Mei 2026 - Ketidaksetaraan gender dalam pendidikan dulu pernah menjadi masalah yang besar sampai membuat sebuah perjuangan dari ibu Kartini. Seiring berjalannya zaman, pendidikan juga lebih baik dalam segi kesetaraan dan hak untuk mendapat pendidikan. menurut data BPS, Perbandingan APK (Angka Partisipasi Kasar) antara laki-laki dan perempuan terus meningkat dihitung dari 2020 hingga 2025 lalu. Angka partisipasi perempuan pun juga lebih banyak dibanding laki-laki setiap tahunnya. 

(Sumber: GoodStats, 2025)


(Sumber: BPS, 2025)


Data Statistik Pendidikan Tinggi 2020 menunjukkan bahwa partisipasi perempuan menurun signifikan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Pada tingkat magister (S2), perempuan hanya sekitar 40,4%, dan turun drastis menjadi 27,2% pada jenjang doktoral (S3).

Ketimpangan ini berlanjut di level akademik, di mana perempuan hanya mencakup sekitar 46% dari total dosen di Indonesia.

(Sumber: Statistik Pendidikan Tinggi, 2020)


Hal ini menunjukkan, bahwa meskipun saat ini perempuan sudah bisa mendapat akses untuk pendidikan jenjang tinggi, perempuan masih lebih sedikit dalam melanjutkan studinya dibanding laki-laki dan memilih untuk langsung berkarir. 

"Sebenarnya gak terlalu susah sih alasannya, karena ya menurutku mending langsung kerja aja bisa dapat pengalaman dan cari uang. S2 menurutku kurang cocok buat aku, aku lebih bagus di praktek daripada belajar teori." ujar seorang mahasiswi ilmu komunikasi inisial S.


Pendidikan yang sudah dapat diakses secara merata tidak menjamin peningkatan angka partisipasi perempuan dalam akademik, karena pada akhirnya semua kembali pada pilihan masing-masing untuk melanjutkan atau tidak, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa akses pendidikan jenjang tinggi sudah lebih merata di 6 tahun terakhir.


Penulis : Nehemia


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Risiko dan Tantangan di Media Sosial

Perempuan Dominasi Media Sosial Indonesia: Pengguna Aktif Dorong Pemberdayaan Digital

MEDIA SOSIAL MENJADI RUANG BARU UNTUK PEMBERDAYAAN PEREMPUAN