Literasi Digital Tumbuh, Perempuan Indonesia Kian Berdaya, tapi Kesenjangan Masih Nyata
Surabaya, 7 Mei 2026 - Indonesia mencatat kemajuan dalam literasi digital. Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) pada 2025 mencapai 44,53, naik 1,19 poin dibanding tahun sebelumnya. Namun angka itu menyimpan ketimpangan yang belum selesai perempuan masih menghadapi jurang akses yang nyata di ruang digital. Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital tahun 2025, sekitar 64,5 persen atau 37 juta pelaku UMKM di Indonesia dijalankan oleh perempuan. Meski mendominasi sektor usaha kecil, mereka justru paling rentan terhadap kesenjangan digital. Perempuan di sektor informal menghadapi risiko otomatisasi yang lebih tinggi, serta keterbatasan akses terhadap pelatihan berbasis teknologi.
Data BPS (2024) mencatat partisipasi perempuan dalam sektor startup berbasis teknologi meningkat 8 persen dibanding tahun sebelumnya. Perempuan kini menjadi aktor penting dalam e-commerce, pendidikan daring, dan konten kreatif.
Masalah utama masih terletak pada ketimpangan akses. Di daerah pedesaan dan terpencil, perempuan cenderung menghadapi keterbatasan internet stabil, perangkat digital, biaya akses, dan rendahnya dukungan pelatihan teknologi. Karena itu, literasi digital perempuan perlu dipahami bukan hanya sebagai kemampuan teknis, tetapi juga sebagai isu keadilan sosial. Dengan penguatan akses, pelatihan, dan dukungan kebijakan yang lebih inklusif, perempuan Indonesia dapat lebih berdaya dalam ruang digital yang semakin menentukan masa depan ekonomi dan sosial.
Suara dari Kampus: Penggerak Muda di Tengah Kesenjangan
Di tengah tantangan itu, generasi muda mulai bergerak. Salah satunya adalah Zara Universitas Negeri Surabaya (UNESA) sekaligus anggota aktif komunitas Girl Up UNESA. Bagi Zara literasi digital bukan sekadar soal bisa mengoperasikan smartphone. “Banyak teman-teman perempuan di sekitar saya yang sebenarnya sudah pegang smartphone, tapi tidak tahu cara memanfaatkannya untuk hal yang produktif buat jualan, buat belajar, atau buat menyuarakan diri mereka. Literasi digital itu soal kepercayaan diri juga, bukan cuma soal sinyal internet." Zara anggota Girl Up UNESA
Akses sebagai Isu Keadilan Sosial
Masalah utama masih terletak pada ketimpangan akses. Di daerah pedesaan dan terpencil, perempuan cenderung menghadapi keterbatasan internet stabil, perangkat digital, biaya akses, dan rendahnya dukungan pelatihan teknologi.
Karena itu, literasi digital perempuan perlu dipahami bukan hanya sebagai kemampuan teknis, tetapi juga sebagai isu keadilan sosial. Dengan penguatan akses, pelatihan, dan dukungan kebijakan yang lebih inklusif, perempuan Indonesia dapat lebih berdaya dalam ruang digital yang semakin menentukan masa depan ekonomi dan sosial.
Sumber : Indeks Digital Masyarakat Indonesia (IMDI), Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Komunikasi dan Digital
Penulis : Dwi Mahardika Rahayu Ningsih
Komentar
Posting Komentar