Media Sosial sebagai Ruang Edukasi Gender: Membuka Wawasan, Menuntut Literasi

Surabaya, 7 Mei 2026 - Saat ini, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Data dari GoodStats tahun 2024 menunjukkan bahwa dua platform yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah WhatsApp (90,9%) dan Instagram (85,3%). Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa hampir seluruh masyarakat telah terhubung dengan media sosial.

(Sumber: Goodstats, 2024)


Dari sisi gender, penggunaan media sosial juga menunjukkan pola yang menarik. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025, perempuan tercatat lebih aktif menggunakan beberapa platform populer seperti TikTok (37,55%), Facebook (21,28%), YouTube (21%), dan Instagram (16,75%) dibandingkan laki-laki.

(Sumber: APJII 2025)


Tingginya penggunaan media sosial ini tidak dapat dilepaskan dari pentingnya literasi digital. Di tengah arus informasi yang cepat dan masif, kemampuan untuk memilah dan memverifikasi informasi menjadi krusial agar pengguna tidak mudah terpapar hoaks. Namun, data dari Katadata Insight Center menunjukkan bahwa tingkat literasi digital perempuan masih sedikit lebih rendah dibandingkan laki-laki, dengan skor sekitar 3,66.

(Sumber: katadata, 2024)


Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun perempuan lebih aktif di media sosial, mereka masih menghadapi tantangan dalam aspek literasi digital. Hal ini menjadi penting, mengingat media sosial kini tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai ruang edukasi.


Dalam beberapa tahun terakhir, platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube semakin banyak dimanfaatkan sebagai media edukasi, termasuk dalam menyebarkan informasi terkait isu-isu perempuan dan kesetaraan gender. Melalui konten yang dikemas secara menarik dan mudah diakses, media sosial menjadi salah satu alternatif bagi perempuan untuk memperoleh pengetahuan yang sebelumnya jarang dibahas di ruang publik.

Banyak pengguna media sosial mengaku merasa “relate” dengan konten edukasi perempuan yang mereka temui. Hal ini terlihat dari berbagai komentar yang berisi pengalaman serupa hingga ungkapan terima kasih karena telah mendapatkan pemahaman baru terhadap isu yang sebelumnya jarang dibahas di ruang publik.

Konten-konten tersebut tidak hanya menjadi ruang berbagi pengalaman, tetapi juga berfungsi sebagai media edukasi alternatif bagi perempuan dalam memahami isu-isu seperti relasi, kekerasan berbasis gender, hingga kesehatan reproduksi.


Namun, tingginya paparan informasi di media sosial juga menuntut kemampuan literasi digital yang baik. Data menunjukkan bahwa tingkat literasi digital di Indonesia masih berada pada kategori sedang, sehingga pengguna tetap berisiko terpapar misinformasi.


“Iya, sering sih lewat di homepage ku soal konten-konten edukasi perempuan gitu. Jujur memang lumayan banyak juga yang aku baru tahu dan menurutku bermanfaat banget. Tapi aku tetap crosscheck lagi sumbernya, karena aku kan enggak tahu sama sekali soal topiknya,” ujar N.


Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga mendorong pengguna untuk lebih kritis dalam memverifikasi informasi yang diterima.


Penulis : Nehemia


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Risiko dan Tantangan di Media Sosial

Perempuan Dominasi Media Sosial Indonesia: Pengguna Aktif Dorong Pemberdayaan Digital

MEDIA SOSIAL MENJADI RUANG BARU UNTUK PEMBERDAYAAN PEREMPUAN