Kesetaraan Gender di Kampus: Perempuan Masih Hadapi Tekanan Sosial dan Budaya


Surabaya, 29 April 2026 – Kesetaraan gender dalam dunia pendidikan terlihat mengalami peningkatan, terkhususnya di dalam lingkungan kampus. Bahkan salah satu Universitas di Surabaya, yakni Universitas Negeri Surabaya sudah menerapkan #GenderEquality di lingkup kampusnya. Namun dibalik kemajuan yang terlihat, terdapat banyak hambatan dari lingkungan sosial dan budaya.

Berdasarkan data dari UNESCO, norma sosial dan stereotip gender masih mempengaruhi pengalaman pendidikan serta peluang yang diterima oleh perempuan dan laki-laki. Data lain dari UNESCO juga menunjukkan bahwa ketimpangan gender cenderung berasal dari nilai sosial dan budaya yang sudah terikat di masyarakat.

Pengaruh Budaya dalam Lingkungan Kampus

Kenyataannya, tidak semua kampus menerapkan gender equality. Masih banyak perempuan yang ragu dengan dirinya sendiri dan memilih hanya untuk menjadi sosok pendukung, dan bukan pemimpin. Salah satu penyebabnya ialah melalui budaya dalam masyarakat yang masih sering terbawa ke lingkungan kampus, yakni budaya patriarki. Akibatnya, di beberapa momen, suara perempuan sering diremehkan dan tidak didengarkan.

Social Pressure yang dirasakan Perempuan

Tekanan sosial dalam lingkungan seperti perempuan harus terlihat sopan, gemulai, nurut kata pasangan, dan tidak boleh terlalu dominan, secara perlahan mengekang gerakan perempuan untuk berekspresi, sehingga mereka cenderung kurang percaya diri. 

Cerita seorang Mahasiswi

Hal ini juga dirasakan langsung oleh mahasiswi. Gaby (21) yang mengaku kadang masih sering merasa ragu untuk berbicara di kelas maupun di forum.

“Kadang kalau mau ngomong, aku mikir dulu. Takut dibilang terlalu emosional atau terlalu dominan,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa perempuan masih perlu usaha lebih untuk bisa dianggap setara.

“Kalau perempuan jadi pemimpin, kadang masih dipandang sebelah mata. Jadi harus lebih percaya diri buat ngebuktiin diri,” tambahnya.

Upaya Kampus dalam Mendukung Kesetaraan Gender

Banyak kegiatan di Universitas Negeri Surabaya yang mendukung gerakan gender equality. Pertama, ada kegiatan PODIUM UNESA VOL. IV yang mengungkapkan perjuangan kesetaraan gender lewat bedah film Hidden Figures. 


Adapula kegiatan Seminar Setara mengangkat tema “From Equality to Well-Being: Feminism and Mental Health in a Changing Society”, yang berfokus pada pentingnya memahami hubungan antara kesetaraan gender dan kesehatan mental di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.

Dengan demikian, di tengah budaya masyarakat yang masih kental dengan patriarki, diharapkan hal tersebut dapat terlepas melalui gerakan-gerakan perlawanan yang dilakukan dilingkungan kampus.

#TheVoiceOfNextGenWomen #WomenEmpowement #SelfLove


Sumber:

UNESCO [Promoting Gender Equity in and through Education]

UNESCO [Structural inequality impedes gender equality in education]

Website ikom.fisipol.unesa.ac.id 

Penulis : Daniya Sarah Arisandia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Risiko dan Tantangan di Media Sosial

Perempuan Dominasi Media Sosial Indonesia: Pengguna Aktif Dorong Pemberdayaan Digital

MEDIA SOSIAL MENJADI RUANG BARU UNTUK PEMBERDAYAAN PEREMPUAN